Sejarah Singkat Yayasan
Formulir Aplikasi
 
 
Masjid Kiai Gede Monumen Hidup Penyebaran Islam di Kotawaringin

17 Maret 2004



AJARAN Islam masuk wilayah Nusantara dengan meninggalkan jejak-jejak yang jelas. Di pesisir pantai, pelosok, pedalaman sampai ke negeri yang jauh dari jangkauan mobilitas penduduk. Jejak sejarah yang nyata dapat disaksikan sampai hari ini bahkan menjadi monumen hidup di masyarakat muslim yang akan terus berkembang seiring dinamika di masyarakatnya..
Masjid Jamií Kiai Gede sebagai salah satu tonggak penyebaran ajaran Islam di Kalimantan Tengah. Masjid yang menjadi saksi sejarah perjalanan umat muslim itu dibangun ratusan tahun silam. Saat ini masih kokoh dan berfungsi seperti awalnya, sebagai tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan kemasyarakatan. Meski banyak bangunan baru yang megah, namun keberadaannya tetap menjadi tonggak sejarah bagi masyarakat muslim.
Masjid menghadap Sungai yang membelah Kota Waringin Barat karena sarana angkutan air masih menjadi pilihan utama. Kontruksi kayu pilihan dan pondasi panggung memungkinkan bangunan lebih tahan menghadapi perubahan cuaca. Arsitektur yang dipilih bersusun, meski tidak sama persis dengan Masjid Agung Demak, namun memiliki struktur yang sama.
Kaiatan sejarahnya jelas, mengambil nama Kiai Gede seorang mubaligh dari Demak Bintoro yang menyebarkan ajaran Islam di bumi Kalimantan. Untuk mengenang jasa dan perjuangan beliau, masjid yang dibangun dan menjadi pusat aktifitas dakwah menapaktilasi namanya. Dengan demikian tetap akan menjadi ingatan kolektif di masyarakat muslim, sekaligus merupakan landasan dan menyemangati dalam setiap aktifitasnya.
Masyarakat muslim kini menjadikannya sebagai tonggak perjuangan dan dakwah Islamiyah, selain menggunakan sebagai pusat kegiatan kemasyarakatan. Secara rutin keberadaannya merupakan sarana ibadah, baik ibadah mahdhah maupun dalam kaitannya dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Mengembalikan peran masjid sebagaimana awal perkembangannya merupakan tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda muslim yang berbasis di Masjid Jamií Kiai Gede.
Monumen hidup berupa masjid jamií sekaligus menjadi harapan bagi masyarakat muslim untuk menghidupkan amaliyah ibadah. Selain itu keberadaannya menjadi peringatan bagi siapa saja, masyarakat muslim banyak memberikan sumbangan bagi pembangunan sebuah kawasan, kota dan bagi peradaban bangsanya. Untuk itu ke depan masyarakat muslim harus tertap berperan bagi pembangunan masyarakat dan bangsanya, Indonesia.
Masjid dan masyarakat muslim menjadi saksi betapa kontribusi besar masyarakat muslim tidak dapat diabaikan, terlebih dalam menghadapi era masa depan yang penuh dengan tantangan. Sumbangan yang sangat besar sejak masa silam, harus menjadi modal untuk memberikan sumbangan terbaik bagi generasinya. Generasi muda muslim harus menyadari peranan para pendahulunya sehingga menjadikan mereka sebagai teladan bagi perjuangan generasi penerus.
Lintas sejarah
Masjid Jamií Kiai Gede di bangun tahun 1632 Miladiyah yang bertepatan dengan tahun 1052 Hijriyah. Saat itu Kerajaan Banjarmasin yang membawahi Kasultanan Kotawaringin dengan pemerintahan dipegang Pangeran Adipati Muda (1010-1055 H). Jauh sebelum masuknya kaum imperialis kolonial Belanda, Kotawaringin merupakan wilayah kerajaan/kesultanan.
Menurut catatan sejarah kota berdasarkan penanggalan Hijriyah berturut-turut tampil sebagai pemimpin, Pangeran Adipati Antakusuma (893-908 H), Pangeran Mas Adipati (908-939 H), Pangeran Penembahan Anom (939-954 H), Pangeran Prabu (954-1010 H), Pangeran Adipati Muda (1010-1055 H), Pangeran Penghulu (1055-1095 H), Pangeran Ratu Begawan (1095-1162 H), Pangeran Ratu Anom Kusuma Yuda (1162-1225 H).
Pangeran Ratu Imanuddin (1225-1275) atau sekitar tahun 1814 Miladiyah pusat pemerintahan yang semula di Kotawaringin dipindahkan ke Pangkalan Bun. Di pusat pemerintahan yang baru ini Pangeran Ratu Imanuddin membangun istana yang megah dan bernama Istana Indra Kencana.
Pangeran Ahmad Hermansyah (1275-1281 H), Pangeran Anom Kesuma Udha (1281-1323 H), Pangeran Ratu Sukma Negara (1323-1333 H). Pangeran Ratu Sukma Alamsyah memerintah setelah mengalami masa kekosongan pada tahun 1914-1939 Miladiyah. Setelah mangkat beliau digantikan Pangeran Ratu Anom Alamsyah yang memerintah tahun 1939-1947 Miladiyah.
Ketika Kerajaan Majapahit memerintah di Tanah Jawa, daerah ini menjadi bagian wilayah kekuasaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh dan digantikan Kasultanan Demak Bintoro bergantilah penguasa, demikian halnya dengan Kerajaan Banjarmasin pernah menguasai daerah ini.
Masuknya pengaruh ajaran Islam sampai di Kotawaringin yang ketika itu berada di bawah wilayah Kasultana Demak Bintoro, berangkatlah ulama dan para pengikutnya yang setia. Kiai Gede yang pernah berguru kepada Sunan Giri di Gresik, datang ke Kalimantan sekitar tahun 1591 Miladiyah. Ketika itu Kasultanan Banjarmasin dibawah perintah Sultan Mustainubillah raja keempat yang memerintah tahun 1650-1678 Miladiyah.
Pada masa pemerintahan Mustainubillah ini Kiai Gede diutus Kasultanan Demak untuk menyiarkan ajaran Islam di pedalaman Kalimantan. Sultan Banjarmasin menugaskan Kiai Gede untuk menyebarkan ajaran Islam di Kotawaringin, sekaligus merintis kasultanan. Kelak Kiai Gede yang berjasa menyebarkan ajaran Islam mendapat kedudukan sebagai Adipati di Kotawaringin dengan pangkat Patih Hamengkubumi yang bergelar Adipati Gede Ing Kotawaringin.
Bersama para pengikutnya Kiai Gede membangun Kotawaringin dari belantara menjadi sebuah kawasan pemukiman, berawal dari 40 orang yang dikirim dari Kasultanan Banjarmasin terus berkembang dan sampai sekarang menjadi salah satu daerah hunian yang maju.
Setelah pembangunan cukup untuk sebuah kawasan pemukiman tahun 1680 Miladiyah ketika pemerintahan dipegang Pangeran Adipati Antakusuma, Kiai Gede dikukuhkan menjadi adipati yang berkedudukan di Kotawaringin. Sejak saat itu perkembangan masyarakat muslim terus maju sampai sekarang menjadi salah satu wilayah pemukiman yang terus berkembang.
Arsitektur khas
Masjid Jamií Kiai Gede berukuran 16 X 16 meter luas keseleuruhan mencapai 256 meter persegi. Kontruksi bangunan terbuat dari bahan kayu pilihan, kayu ulin yang memungkinkan bertahan untuk jangka waktu lama. Pondasi bangunan dirancang menggunakan bahan yang tahan cuaca, untuk menghindari lapuk dimakan usia tiang-tiangnya tidak ditanam melainkan diletakkan di atas mangkuk terbuat dari kayu ulin, khas Kalimantan.
Selain menjadi keunikan dan terobosan rekayasa ketika itu sekaligus merupakan hasil pemikiran cemerlang. Generasi muda yang berkecimpung dalam bidang rekayasa kontruksi hendaknya berkaca dari pengalaman para pendahulu yang sukses mengembangkan berbagai terobosan. (djo)


MONUMENTAL -Masjid Kiai Gede menjadi monumen hidup bagi masyarakat muslim. (djo)



     
  >> Masjid Istiqlal Jakarta Monumen Kemerdekaan RI
  >> Kota Tua dengan Masjid Tua
  >> MASJID ATTAAIBIN
  >> Masjid Raya Pondok Indah
  >> Masjid Jadi Oase di Tengah Kegersangan
  >> Miniatur Masjid Agung Demak
  >> Masjid Jamií Sumenep yang Menawan
  >> Masjid Baitur Rahman Banda Aceh Keteduhan di Tengah Pergolakan
  >> Masjid Al Ishlah Bondowoso Makmur di Tengah Pesantren
  >> Masjid Attaqwa Manado Membina Kerukunan Kehidupan Umat Beragama

Gemari | KBI Gemari | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra
design by
gemari.or.id
Update by Suwandi Yesaya (suwandiy@vision.net.id) 25 Sept 2003